Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Desember 2010

Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Bermedia VCD


PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERMEDIA VCD
TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA di KELAS IV SD
Oleh C.Emi.S.Car

ABSTRAK
            Pendekatan kontekstual adalah salah satu model pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat belajar peserta didik.Dengan adanya minat yang tinggi akan menghasilkan kemampuan belajar yang tinggi pula.Pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang gampang-gampang susah diberikan kepada peserta didik.Seperti halnya mata pelajaran yang lain, mata pelajaran Bahasa Indonesia juga mempunyai standar KKM yang harus dipenuhi peserta didik.Namun, target tersebut sering kali belum terpenuhi, khususnya dalam materi”penggunaan ejaan yang tepat dan benar”
            Penelitian ini dibuat dengan tujuan:(1)Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan ejaan dengan tepat dan benar, (2)Menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, serta (3)Peserta didik mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya sehari-hari.
            Untuk mencapai hasil yang maksimal, penelitian ini diawali dengan cara mengamati kebiasaan yang dilakukan peserta didik, khususnya mengamati penggunaan ejaan yang dilakukan peserta didik.Sampel yang dipilih adalah kelas IV A dari tiga kelas parallel yang ada untuk dijadikan uji coba, kelas eksperimen, dan kelas control.
            Dari kegiatan yang dilakukan dan berdasarkan data yang sudah dibuat yaitu deskripsi, table, dan statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar peserta didik.Pembelajaran yang menggunakan media VCD dengan model pembelajaran yang sesuai akan lebih berhasil jika dibandingkan dengan pembelajaran yang monoton, apa adanya, dan konvensional.
            Pelaksanaan model pembelajaran ini akan kurang maksimal hasilnya apabila peserta didik kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.Oleh karena itu, keaktifan peserta didik ikut serta menentukan keberhasilan pembelajaran dengan model pendekatan kontekstual ini.
Kata kunci:Pendekatan kontekstual, bermedia VCD, pembelajaran konvensional, keaktifan peserta didik

Pendahuluan
            Pendidikan merupakan kebutuhan semua insane, sarana mencapai Negara yang maju.Pendidikan juga merupakan usaha yang dilaksanakan semua pihak, dilakukan dengan sadar, dan bertujuan untuk mengubah manusia kea rah yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan serta menjalankan amanat UUD 1945.
            Salah satu mata pelajaran yang diberikan di Sekolah Dasar adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia.Bahkan mata pelajaran ini mendapat porsi jam yang cukup banyak dalam satu minggunya.Namun, di lapangan mata pelajaran ini kurang dicerna peserta didik secara maksimal.Karena kekurangpahaman peserta didik, sebagai dampaknya adalah hasil prestasi tidak maksimal dan peserta didik mengulang kesalahan-kesalahan yang sama.Materi Bahasa Indonesia”Penggunaan ejaan” di kelas IV termasuk materi yang kurang dipahami peserta didik.Materi ini memerlukan ketelatenan dan pengulangan yang terus menerus agar peserta didik sungguh-sungguh paham akan manfaat penggunaan ejaan dengan tepat dan benar.
            Beberapa hal yang menyebabkan peserta didik kurang memahami penggunaan ejaan antara lain:(1)Peserta didik kurang mendapat latihan yang rutin, (2)Mata pelajaran yang lain kurang menunjang penggunaan ejaan, (3)Guru masih menggunakan metode ceramahnya, (4) Proses pembelajaran yang kurang menantang peserta didik untuk berbuat.Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa pembelajaran yang hanya berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali peserta didik memecahkan persoalan dalam jangka panjang.
            Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yaitu di kelas IV.
            Untuk meningkatkan mutu pembelajaran Peserta didik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya tentang penggunaan tanda baca yang tepat dan benar, media pembelajaran yang dipilih mampu mencakup aspek penglihatan (visual), pendengaran (auditif), dan gerak (motorik).Hal ini dikarenakan ketiga komponen tersebut selain mampu memudahkan peserta didik dalam menemukan sendiri makna belajar juga mampu menanamkan konsep pembelajaran.
            Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan mensukseskan implementasi kurikulum dewasa ini.Belajar akan lebih bermakna jika peserta didik mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.Media pembelajaran yang telah popular digunakan dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia adalah dengan menggunakan audio visual (VCD), Video Compact Disc banyak digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai penggunaan media pembelajaran karena sifatnya yang dapat mengakses berbagai macam data dan fasilitas untuk memotivasi peserta didik.
            Sejalan dengan penerapan pendekatan kontekstual yang menggunakan media VCD dan penelusuran minat belajar peserta didik di Sekolah Dasar merupakan suatu alternative untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.Dengan demikian peserta didik dapat mengoptimalkan kemampuan, penalaran, dan ketrampilannya untuk meningkatkan hasil belajar.
            Berdasarkan pengamatan dan pengalaman peneliti selama berproses dengan peserta didik, pembelajaran Bahasa Indonesia masih belum menggunakan pendekatan kontekstual belum memanfaatkan media VCD.Berawal dari latar belakang masalah, maka mendorong peneliti selaku penulis untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas yang mengambil judul”Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Bermedia VCD terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD”.

Definisi Operasional
1.Peserta Didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
2.Kompetensi
Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan.
3.Belajar
Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skillis, and attitudes
4.Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.
5.VCD
VCD adalah Video Compact Disc.Video berfungsi sebagai media dengan audio visual.

6.Pendekatan Kontekstual
            Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan nyata yang dialami peserta didik.
            Pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan peserta didik untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik peserta didik di dalam memecahkan masalah di dunia nyata.
            Pembelajaran kontekstual terjadi apabila peserta didik mengetrapkan dan mengalami apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggungjawab peserta didik sebagai anggota keluarga, warga Negara, peserta didik, sekaligus sebagai pribadi yang tangguh.Pembelajaran kontekstual menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan, lintas disiplin, serta pengumpulan, penganalisaan, dan penyintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan.
            Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan CTL, yakni bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong.Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.Manusia harus mengkonstruksikan pengetahuan itu dan member makna melalui pengetahuan nyata.
            Dalam pembelajaran kontekstual, guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi peserta didik dengan cara mengaikan materi pelajaran dengan kehidupan nyata, pengalaman belajarnya, dan lingkungan di mana peserta didik hidup dan berada serta dengan budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di sekitar peserta didik.
            Dengan memanfaatkan pengalaman hidup peserta didik akan memasukkannya dalam proses pembelajaran.Proses pembelajaran akan mengena terhadap kebutuhan peserta didik.Terlebih melalui pelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik diajak untuk melihat dan mengamati apa yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang terkait dengan penggunaan ejaan yang baik dan benar.
            Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu peserta didik dalam mencapai tujuannya.Guru hendaknya lebih banyak berusuran dengan strategi pembelajaran yang memicu peserta didik menyerap materi ajar, dari pada hanya member informasi.Guru bertugas untuk mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang diajarnya yang dapat berupa pengetahuan, ketrampilan, dan hasil menemukan sendiri dari kegiatan pembelajarana tersebut dan bukan dari apa kata guru.
            Menurut Borko dan Putnam, ia mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi peserta didik dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana peserta didik hidup dan berada serta budaya yang berlaku dalam masyarakatnya.
            Peran guru dalam contextual learning berbeda perannya dibandingkan dengan kelas tradisional.Dalam kelas tradisional, guru satu-satunya penguasa dan pemberi informasi, guru memberikan pengetahuan dan peserta didik menyerap pengetahuan tersebut tanpa banyak bertanya.
            Pembelajaran kontekstual dengan menggunakan VCD akan sangat menarik bila diberikan kepada peserta didik.

Metode
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi, dan tes.
Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif.Peneliti mendeskripsikan secara detail hasil observasi terhadap tindakan yang dilaksanakan, selanjutnya dihitung rerata hasil tes.
Proses analisis data dimulai dengan cara mengumpulkan data yang ada di lapangan untuk kemudian diklasifikasikan dan diinterprestasikan.Data-data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif, direduksi, diklarifikasikan dan dideskripsikan ke dalam bahasa verbal untuk penarikan kesimpulan.
Langkah terakhir dari analisa data adalah verivikasi yang merupakan tinjauan terhadap catatan lapangan sebelum diadakan penarikan kesimpulan.Pada akhir siklus-siklus dilakukan pengambilan datam mengenai data pembelajaran yang tidak dilakukan melalui reflek pembelajaran.

Hasil dan Pembahasan
            Apabila para guru mau dan mampu mengelola proses pembelajaran, maka pembelajaran akan menarik peserta didik.Dari haril Penelitian Tindakan Kelas yang telah dilaksanakan itu memberi suatu pengalaman nyata bahwa apabila proses pembelajaran dikelola sedemikian rupa akan menghasilkan prestasi belajar yang baik.
            Tingkat kejenuhan peserta didik akan berkurang, peserta didik akan lebih bergairah dan termotivasi dengan tantangan-tantangan yang ditawarkan oleh guru dalam proses pembelajaran.Terlebih dengan memadukan model pembelajaran kontekstual dengan media VCD.Di sini peserta benar-benar diajak untuk menemukan sendiri apa yang mereka pelajari dengan beberapa contoh dari guru.
            Peserta didik mulai tumbuh kesadarannya untuk menggali pengetahuan yang dimilikinya, kemudian memadukan dengan pembelajaran dari guru, maka lambat laun peserta didik akan lebih diperkaya pengalamannya dari pembelajaran kontekstual ini.Dilihat dari hasil ada perubahan dari peserta didik, baik itu prestasinya, sikap menghargai pendapat teman, maupun ketrampilannya.
            Namun demikian, pembelajaran yang menggunakan VCD mempunyai kelebihan dan kekurangan.Kelebihannya antara lain:dapat diputar berulang-ulang sehingga peserta didik yang lamban masih bisa mengikuti proses pembelajaran, tayangan bisa dibuat cepat atau dibuat lambat, tidak memerlukan ruang khusus, cara mengoperasikannya relative mudah.Di samping kelebihan, ada juga kelemahannya.Kelemahan menggunakan media VCD adalah sekolah harus menyediakan fasilitas pembelajaran berupa program VCD di luar jan sekolah dengan menyediakan CD untuk dipinjam oleh peserta didik ataupun kelompok belajar mereka.

Penutup
            Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan observasi dan tes yang diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang diperoleh peserta didik yang diajar dengan menggunakan pendekatan kontekstual bermedia VCD dengan pembelajaran konvensional.Pada pembelajaran berkontekstual peserta didik sungguh-sungguh dapat menggali pengalaman belajarnya, menemukan sesuatu, dan mengetrapkan dalam setiap penulisan semua mata pelajaran.
            Pembelajaran berkontekstual ini tidak akan dapat berhasil dengan baik apabila dari pihak guru sendiri kurang dapat member motivasi kepada peserta didik sebelum pelajaran dimulai.Motivasi ini sangat penting sekali sebagai modal awal peserta didik dalam menggali dan menemukan sesuatu.Di samping itu diperlukan keberanian peserta didik dalam proses penemuannya.Sikap pasif dan apatis peserta didik akan menghambat keberhasilan pembelajaran kontekstual.



Daftar Pustaka
Bambang Yulianto (2008), Aspek Kebahasaan dan Pembelajarannya:
            Unesa University Press, Surabaya
IGAK Wardhana, dkk (2007) Penelitian Tindakan Kelas:UT Jakarta
Kerlingger Fred N.(1993)Asas-asas Penelitian Behavioral
            Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Oemar Hamalik (2006), Manajemen Pengembangan Kurikulum:Rosda Surabaya
Suryanti, dkk.Model-model Pembelajaran Inovatif:Universitas Negeri Surabaya
Tim (2005).PP No.19 Tahun 2005 Tentang SNP, Jakarta, Diknas
Udin S.Winataputra, dkk(2007) Teori Belajar dan Pembelajaran:UT Jakarta


Rabu, 15 Desember 2010

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah


PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA di KELAS VI SD
Oleh:C.Emi.S.Car

Abstrak
            Model pembelajaran berdasarkan masalah (problem-based instruction) adalah pendekatan pembelajaran peserta didik pada masalah autentik yang dihadapi setiap harinya.
            Penelitian ini dibuat dengan tujuan:(1)Mengetahui hasil belajar peserta didik apabila menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah dengan pembelajaran konvensional dan (2)Mengetahui keefektifan model pembelajaran berdasarkan masalah dengan pengetrapannya pada soal cerita yang berkaitan dengan materi rasio.perbandingan.
            Penelitian ini diawali dari hasil prestasi belajar peserta didik yang kurang mencapai target yang diharapkan dan hasil prestasi UASBN yang setian tahunnya tidak stabil.Sampel yang dipilih adalah kelas VI A dari tiga kelas parallel yang ada untuk dijadikan uji coba, kelas eksperimen, dan kelas control.
                Hasil penelitian yang menggunakan deskripsi, table, dan statistik (uji t) menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang dicapai peserta didik dibandingkan dengan pembelajaran yang masih konvensional.Nmaun, pembelajaran berdasarkan masalah kurang efektif apabila peserta didik kurang mempunyai keberanian untuk mengungkapkan gagasannya.Oleh karena itu, guru hendaknya mampu mencari model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga peserta didik dapat mudah menerima materi pelajaran dan mampu memberi motivasi belajar peserta didik.Dengan demikian, peserta didik akan mampu memahami materi dengan baik serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kata kunci:Pembelajaran berdasarkan masalah, pembelajaran konvensional, masalah autentik, keefektifan pembelajaran






Pendahuluan
            Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di Sekolah Dasar.Mata Pelajaran ini mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi peserta didik.Lebih-lebih dalam materi soal cerita yang berkaitan dengan perbandingan/rasio.Dari peserta didik yang berjumlah 50, kira-kira hanya 60% yang mencapai ketuntasan belajar.
            Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik, namun hasilnya juga kurang maksimal.Upaya yang dilakukan pihak sekolah antara lain:memberikan tambahan pelajaran di luar jam pelajaran, pendekatan personal, pendampingan khusus terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, memberikan remedial terhadap peserta didik yang kurang memenuhi KKM yang ditentukan sekolah.
            Faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi peserta didik dalam mata pelajaran Matematika, antara lain:system pengajaran yang masih konvensional (guru masih mendominasi proses belajar mengajar), rasa kurang percaya diri peserta didik (takut salah bila mengemukakan gagasannya), pendampingan guru terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan masih kurang maksimal
            Untuk mendukung visi dan misi pendidikan nasional, seorang guru dituntut mampu memberikan pembelajaran yang professional untuk menghantar peserta didik menjadi manusia yang mandiri dan mampu menetrapkan ilmunya untuk orang lain serta masyarakat pada umumnya.Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan system pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga ia mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah.
            Dengan mengacu pada visi dan misi pendidikan nasional Indonesia, jelaslah sudah bahwa pembelajaran yang terjadi hendaknya merupakan pembelajaran inovatif.Pembelajaran yang inovatif dapat terwujud apabila para guru memiliki kemampuan untuk mengolah pembelajaran sedemikian rupa supaya menarik bagi peserta didik sehingga peserta didik tidak mengalami kejenuhan dalam belajar.Di samping mampu mengolah pembelajaran, guru juga dituntut mencari dan menemukan suatu cara yang dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik.Pengertian ini mengandung makna bahwa guru yang professional diharapkan dapat mengembangkan suatu model pembelajaran yang kreatif dan inovatif, dapat mengembangkan, menemukan, menyelidiki, dan mengungkapkan ide dan gagasan peserta didik.
            Secara umum penyebab menurunnya prestasi belajar peserta didik dalam materi soal cerita di kelas VI adalah pengajaran yang diberikan masih konvensional dan minat belajar siswa pada pelajaran Matematika kurang.
            Untuk mengatasi permasalah yang terjadi yakni menurunnya prestasi belajar peserta didik dalam soal cerita di kelas VI yang berkaitan tentang rasio/perbandingan, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah.Sedangkan judul yang diambil adalah”Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Dalam Pelajaran Matematika di Kelas VI”

Definisi Operasional
1.Kompetensi
Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan.Kompetensi merupakan segala sesuatu yang akan dimiliki oleh peserta didik dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam proses pembelajaran.
Kompetensi adalah pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai-nilai hidup yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.Berkaitan dengan perumusan tersebut, maka kompetensi dapat dikenali melalui dari sejumlah hasil belajar dan indicator yang dapat diukur dan diamati.
2.Prestasi
Prestasi belajar adalah perolehan belajar seseorang yang bersifat keilmuan, yang menggunakan analisis intelektual, yang tergolong ranah kognitif, penguasaan konsep, kaidah, prinsip, dan teori.
3.Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
4.Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh peserta didik selama kegiatan belajar mengajar sebagai akibatnya adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen dari peserta didik dalam mencapai tujuan tertentu.
5.Teknik analisis data adalah upaya untuk mengelola data yang telah diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi sehingga peneliti dapat mengadakan terhadap hasilnya
4.Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Model pembelajaran berdasarkan masalah mempunyai cirri penggunaan masalah dalam dunia nyata.Peserta didik diajak untuk menyelamidunianya dengan semua masalah-masalah yang dilihat bahkan dialami oleh peserta didik.Model pembelajaran ini diharapkan mampu melatih dan meningkatkan ketrampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan konsep-konsep penting.Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah ini mengutamakan proses belajar, di mana seorang guru harus memfokuskan diri untuk membantu peserta didik mencapai ketrampilan mengarahkan diri.Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya pada berpikir yang lebih tinggi, dalam situasis berorientasi pada masalah, termasuk di dalamnya adalah bagaimana cara belajar.Belajar berdasarkan masalah ini terjadi apabila peserta didik menggunakan berbagai konsep dan prinsip  untuk menjawab suatu pertanyaan/masalah yang terjadi dan dialami oleh peserta didik.Proses pemecahan masalah selalu bersegi jamak dansatu sama lain saling berkaitan.Urutan jenis-jenis belajar berdasarkan masalah merupakan tahapan belajar yang bersifat hirarkhis.Jenis belajar yang pertama merupakan prasarat bagi berlangsungnya jenis belajar berikutnya.
Langkah-langkah pemecahan masalah ada 3 langkah yaitu:Langkah pertama:Menganalisa hakikat masalah, menganalisadari pemecahan masalah permula, dan Langkah yang ketiga adalah Menyajikan masalah kepada peserta didik dan menetapkan langkah yang tepat untuk membantu peserta didik melalui proses pemecahan masalah.
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis, karena di dini guru berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, pemberi fasilitas penelitian, menyiapkan dorongan dan dukungan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual peserta didik.

Metode
            Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas.Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus.Masing-masing siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaak, pengamatan, dan refleksi.
            Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi, dan tes.
            Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif.Peneliti mendiskripsikan secara detail hasil observasi terhadap tindakan yang dilaksanakan, selanjutnya dihitung rerata hasil tes.Selanjutnya rerata dikonfirmasikan ke table penentuan patokan dengan penghitungan persentase skala lima.

Hasil dan Pembahasan
            Berdasarkan Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah dapat diperoleh data sebagai berikut:
1.Pada siklus pertama, tampak bahwa peserta didik dalam mempraktekkan model pembelajaran berdasarkan masalah masih belum mencapai target yang diharapkan.Hasil perbaikan pembelajaran siklus pertama belum memenuhi kriteria ketuntasan kemampuan yang ditetapkan.Kekurangberhasilan ini disebabkan karena peserta didik kurang mempunyai rasa percaya diri dan takut salah dalam mengemukakan pendapatnya.Karena pada siklus pertama kurang berhasil, maka dilaksanakan perbaikan pada siklus kedua.
2.Pengalaman belajar peserta didik pada siklus pertama menjadi acuan untuk mengawali melaksanakan perbaikan pada siklus kedua.Pada siklus kedua ini tampak peserta didik sudah mulai berani mengungkapkan gagasannya, bertanya, menjawab pertanyaan walaupun masih dalam bimbingan guru.Dan hasilnyapun menjadi lebih baik dari pada siklus pertama.Peserta didik yang mengalami ketuntasan ada 100%.
            Pada siklus 1 dan 2 hasil perbaikan menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik dalam menggunakan materi perbandingan/rasio dalam bentuk soal cerita dan dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah menunjukkan kemampuannya secara menyeluruh.Hasil perbaikan pada siklus ke 2 menunjukkan peningkatan yang maksimal.Ketuntasan ini disebabkan oleh semakin dikuasainya komponen-komponen kemampuan penggunaan pembelajaran dengan model berdasarkan masalah yang merupakan suatu penyelesaian dalam soal cerita mengenai perbandingan/rasio.
            Berdasarkan analisa dengan penghitungan dengan uji t dapat dilihat bahwa penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah dalam pembelajaran Matematika di kelas VI A Sekolah Dasar dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
            Namun demikian, pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah tidak akan berhasil secara maksimal apabila peserta didik bersikap apatis, kurang rasa percaya diri, kurang berani dalam mengungkapkan gagasannya, termasuk juga apabila guru kurang mendampingi peserta didik, kurang dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.

Penutup
            Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan observasi dan tes telah diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang diperoleh peserta didik yang diajar menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah dengan model pembelajaran konvensional.
            Hasil belajar peserta didik yang diberikan dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah jauh lebih baik dibandingkan apabila diajar dengan menggunakan pengajaran yang konvensional.Hal ini terbukti dari kenaikan prestasi peserta didik ketika peserta didik mengerjakan soal-soal yang sudah disiapkan guru.Dengan model pembelajaran ini, secara tidak langsung peserta didik diajak untuk berpikir kritis dan nalar.

Daftar Pustaka       
Andayani, dkk (2007) Pemantapan Kemampuan Profesional.UT Jakarta
Bambang Yulianto (2008),Aspek Kebahasaan dan Pembelajarannya:
             University Press,  Surabaya
IGAK Wardhana, dkk (2007) Penelitian Tindakan Kelas.UT Jakarta                 
Kerlingger Fred N.(1993) Asas-asas Penelitian Behavioral.
             Yogyakarta Gajah Mada University  Press
Oemar Harmalik (2006),Manajemen Pengembangan Kurikulum:Rosda, Surabaya
Suryati, dkk (2008), Model-model Pembelajaran Inovatif:Universitas Negeri Surabaya
Tim.(2005)PP No. 19 Tahun 2005 Tentang SNP, Jakarta, Diknas
Udin S.Winataputra, dkk (2007), Teori Belajar dan Pembelajaran:UT Jakarta

Sabtu, 04 Desember 2010

Bahasa Daerah PTK


PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI
MODEL SNOWBALL TROWING PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA
Oleh:C.Emi.S.Car
Abstrak
            Mata Pelajaran Bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang diminati oleh siswa.Hal ini disebabkan karena system pengajaran yang masih konvensional dan kurang menantang bagi siswa.Model Pembelajaran Snowball Trowing merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat menarik siswa karena pelaksanaannya dilakukan melalui permainan.Penelitian ini dibuat dengan tujuan mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Jawa dan mengetahui seberapa jauh pengaruh model pembelajaran Snowball Throwing dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa.Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang diawali dengan keprihatinan tidak maksimalnya prestasi belajar Bahasa Jawa, khususnya Tulisan Jawa.Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus.Pada siklus pertama prestasi belajar siswa justru mengalami kemunduran karena siswa masih belum memahami teknik-teknik pengetrapan Model Pembelajaran Snowball Trowing.Pada siklus ke dua baru tampak perubahan pemahaman siswa, walau dari nilai belum tampak, namun motivasi belajar siswa mulai tampak.Siswa lebih berperan aktif dalam berproses dibandingkan pada saat mereka menerima pembelajaran dengan metode ceramah saja.Pengetrapan Model Pembelajaran Snowball ini kurang berhasil apabila siswa kurang memiliki keberanian untuk menuangkan gagasannya.
Kata kunci: Model Pembelajaran Snowball Throwing, pembelajaran konvensional, motivasi belajar, keefektifan pembelajaran.
Pendahuluan
            Dewasa ini, kita perlu melihat kembali kegiatan-kegiatan pembelajaran di sekolah.Kebutuhan siswa untuk sekarang ini tentunya sangat berbeda ketika kita sendiri menjadi siswa beberapa puluh tahun yang lalu.Dengan demikian peranan yang yang dimainkan dalam proses pembelajaran juga harus berbeda pula.
                Pembelajaran yang diberikan di sekolah belum menjawab kebutuhan siswa di era global ini.Pembelajaran yang memberikan tantangan-tantangan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sangat dibutuhkan agar siswa mampu menyerap pelajaran dengan baik.
                Fenomena yang ada di masyarakat kita dan masih melekat sampai sekarang adalah suatu fenomena yang beranggapan bahwa tugas seorang guru adalah mengajar dan memasukkan materi yang bersifat informasi dan pengetahuan.Fenomena tersebut tidak salah, namun untuk dewasa ini tugas seorang guru tidak cukup hanya menstrasfer ilmu yang dimiliki guru kepada siswa, namun lebih dari itu diharapkan guru mampu membentuk siswa menjadi pribadi yang tangguh baik secara pengetahuan maupun emosional dan kecakapannya.
                Bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran muatan lokal yang sudah ditetapkan oleh Dinas.Selain itu ada pula mata pelajaran lain yakni Bahasa Inggris dan Komputer.Masing-masing mata pelajaran muatan lokal waktunya 2 jam pelajaran untuk jenjang SD.Khusus untuk mata pelajaran Bahasa Jawa tentang Menulis Jawa dianggap materi yang cukup sulit bagi siswa.Dalam kegiatan belajar mengajarpun mata pelajaran ini diberikan dengan metode ceramah.Salah satu metode di mana guru yang lebih mendominasi proses daripada siswanya.Siswa pasif mendengarkan.Sebagai akibatnya motivasi siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Jawa menurun, hasil evaluasipun otomatis tidak maksimal.
                Beberapa faktor yang merupakan penyebab tidak maksimalnya hasil belajar Mata Pelajaran Bahasa Jawa khususnya tentang tulisan Jawa antara lain:(1)Lingkungan siswa yang mayoritan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu di rumah, (2)Kurang dukungan dari pihak orang tua, orang tua siswa menganggap bahwa mata pelajaran Bahasa Jawa itu tidak penting, (3)Metode mengajar yang kurang menarik bagi siswa, (4)Motivasi siswa dalam merespon mata pelajaran Bahasa Jawa kurang.Dengan beberapa menyebab di atas, maka perlu dilaksanakan analisa dan kiat-kiat guna meningkatkan hasil belajar siswa serta mengurangi anggapan tidak pentingnya Bahasa Jawa di lingkungan pendidikan khususnya di sekolah.
                Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan yang baik hendaknya segera dilaksanakan untuk dapat mewujudkan tujuan akhir pendidikan.Untuk dapat mencapai tujuan akhir pendidikan diperlukan proses kegiatan belajar mengajar yang mampu menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis.Termasuk di dalamnya adalah mata pelajaran Bahasa Jawa juga membutuhkan proses yang menarik dan diminati oleh siswa, bukan dianaktirikan karena bukan mata pelajaran yang di UAN kan.Walau termasuk mata pelajaran Muatan Lokal, mata pelajaran Bahasa Jawa harus diberikan sesuai dengan porsinya, serta proses pembelajarannyapun hendaknya disejajarkan dengan mata pelajaran lainnya.
                Secara umum penyebab menurunnya motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran adalah ketidaktepatan metodologi pengajaran yang diterapkan guru, metode ceramah tanpa diselingi metode-metode lain yang menantang siswa untuk berpikir.
                Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi yakni menurunnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Jawa, peneliti mencoba mengetrapkan Model Pembelajaran Snowball Trowing.Pelaksanaan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Snowball Trowing ini tidak memberikan pengejaran kepada siswa dengan memberikan informasi dan pengetahuan saja, malainkan pembelajaran yang lebih mengedepankan pada pengembangan kemampuan siswa dan pemrosesan informasi yang didapat siswa.
Definisi Operasional
1.Bahasa
Bahasa merupakan sarana untuk saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain serta meningkatkan kemampuan intelektual dan apresiasi.
2.Mata Pelajaran Bahasa Jawa
Mata pelajaran Bahasa Jawa adalah program pengajaran bahasa untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Jawa serta sikap positif terhadap Bahasa Jawa.
3.Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa selama kegiatan belajar mengajar sebagai akibatnya adalah perubahan tingkah laku yang relative permanen dari siswa dalam mencapai tujuan tertentu.
4.Model Pembelajaran Snowball Trowing
Model Pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu model pembelajaran di mana berawal dari penyampaian materi oleh guru secara umum, membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menyampaikan penjelasan materi kepada teman-temannya dalam satu kelompok.Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.Kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain selama kurang lebih 15 menit.Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
Metode
                Penelitian tindakan ini merupakan penelitian dalam bidang social, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama, dilakukan oleh dua orang yang terlibat didalamnya, serta bertujuan untuk melaksanakan perbaikan mata pelajaran Bahasa Jawa.
                Mills (2000) mendifinidikan penelitian tindakan sebagai”systematic inquiri” yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukan.
                Peneliti mengangkat penelitian ini sebagai Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) karena penelitian ini dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah pembejaran di kelasnya, yaitu tidak maksimalnya hasil belajar ulangan harian siswa.Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif kualitatif sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diharapkan akan tercapai.
Hasil dan Pembahasan
                Jika para guru memperlakukan semua mata pelajaran secara setara dan seimbang sesuai dengan porsinya, maka mata pelajaran Bahasa Jawapun akan mendapat tempat yang sama dengan mata pelajaran lainnya.Siswa akan mampu belajar dan ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran seperti siswa mengikuti pelajaran selain Bahasa Jawa.Siswa juga akan menyukai pelajaran Bahasa Jawa jika prosesnya dikemas sedemikian rupa supaya siswa tertarik pada mata pelajaran ini.
                Namun yang terjadi di lapangan adalah guru masih mendominasi proses pembelajaran dan siswa duduk terpaku mendengarkan guru berceramah.Masih terjadi diskriminasi pada mata pelajaran tertentu dan mendewakan mata pelajaran UNAS.Siswa pasif dalam belajar.
                Pada pelaksanaan penelitian ini peneliti mengajak dan melibatkan beberapa guru sebagai pengamat pelaksanaan proses pembelajaran dengan Model Snowball Throwing di kelas.Siswa diajak berproses bersama dengan guru dan kelompoknya.Pelaksanaan model pembelajaran ini melalui beberapa tahapan antara lain:pelaksanaan pembelajaran, diskusi kelompok, tes, memberikan penilaian terhadap pekerjaan siswa, menentukan kelompok yang mendapat skor tinggi, dan terakhir menentukan nilai individual, yakni mengerjakan kembali tes tertulis dengan 10 nomor soal.
                Proses pembelajaran ini berkolaborasi dengan guru kelas tiga dan guru Pendidikan Agama yang ada di SD Santo Carolus Surabaya.Adapun proses belajar mengajar acuannya pada semua perangkat pembelajaran yang sudah disiapkan sebelumnya.Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
                Setelah siswa mengikuti proses pembelajaran maka siswa mengerjakan tes ulangan harian yang sudah dipersiapkan oleh guru dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan siswa dalam berproses bersama dengan menggunakan Model Pembelajaran Snowball Throwing.
                Pada tahap refleksi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:
1.Guru kurang jelas dalam menyampaikan teknik pengetrapan Model Pembelajaran Snowball Throwing kepada siswa.Hal ini disebabkan karena siswa baru mengenal model pembelajaran ini.Penjelasan perlu diulang-ulang supaya siswa lebih paham.
2.Guru kurang dapat memotivasi siswa yang belum hafal tulisan Jawa sebagai akibatnya siswa yang sudah paham akan tulisan Jawa mendominasi proses pembelajaran sebaliknya siswa yang belum hafal duduk termenung menunggu bantuan jawaban dari teman sekelompoknya.
3.Siswa kurang termotivasi dalam belajar karema tulisan Jawa masih dianggap tidak ada manfaatnya untuk kehidupan siswa kelak.
                Refleksi dilakukan sebagai upaya perbaikan untuk siklus berikutnya yaitu siklus 2.Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I oleh peneliti diperbaiki pada siklus 2.Perbaikan yang dilakukan peneliti pada siklus 2 antara lain:
1.Guru mengulang penjelasan tentang bagaimana melakukan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Snowball Throwing yang benar sehingga siswa lebih lancer dalam mengikuti proses pembelajaran.
2.Guru lebih trampil dalam mengembangkan upaya memotivasi siswa agar siswa benar-benar tertarik pada pembelajaran Bahasa Jawa
3.Guru memberikan pertanyaan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa akan materi tulisan Jawa.
                Kelemahan menggunakan Model Pembelajaran Snowball Throwing antara lain: siswa yang kurang memiliki keberanian berbicara akan sulit berbaur dengan teman-temannya, untuk siswa Sekolah Dasar yang bersifat ego selalu mendominasi kerja kelompok, siswa yang kurang paham dasar-dasar tulisan Jawa bersikap apatis dan kurang mau berusaha, siswa yang pandai justru memonopoli proses belajar, siswa yang kurang sangat pasif.Sebaliknya keuntungan menggunakan Model Pembelajaran Snowball Throwing antara lain:Siswa lebih aktif dalam belajar, siswa yang memiliki keberanian dan memiliki kemampuan lebih dapat membantu teman-temannya yang kurang, memupuk kerja sama antar anggota kelompok, melatih keberanian siswa dalam mengutarakan gagasannya, siswa dapat bekerja lebih sistimatis, serta mampu mengoptimalkan waktu yang disediakan.
                Secara umum, penelitian ini memiliki pengaruh terhadap siswa.Dari segi prestasi/nilai ulangan hasil yang dicapai mengalami kenaikan, walau tidak banyak.Namun yang tampak adalah siswa sudah mulai termotivasi untuk ikut serta berproses dalam pembelajaran.Semula siswa kurang tertarik pada pelajaran Bahasa Jawa, khususnya menulis Jawa sekarang ini sudah mulai tumbuh rasa senang dalam belajar.Bagi siswa Tulisan Jawa sangat susah dipelajari, belum lagi yang terkain dengan sandhangan dan pasangan.Semakin tinggi materi yang disampaikan semakit tinggi pula tingkat kejenuhan siswa.
                Melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dan beberapa teman sejawat menunjukkan bahwa model pembelajaran Snowball Throwing sangat memiliki dampak positif bagi siswa dan dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Jawa tentang tulisan Jawa.Hasil tersebut dapat dilihat dari aktifitas siswa untuk mencari pertanyaan sebanyak-banyaknya dari teman-temannya dan antusias siswa dalam menjawab pertanyaan yang sudah didapat.
                Di samping itu, sesuai hasil observasi lapangan, aktifitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Jawa dengan materi tulisan Jawa ini sangatlah menyenangkan.Kegiatan pembelajaran ini sungguh-sungguh berpusat pada siswa.Walaupun masih ada 15% siswa yang masih perlu didampingi, namun secara umum pengetrapan model pembelajaran ini tergolong baik.
Penutup
                Penelitian yang telah dilaksanakan ini menyimpulkan bahwa penyampaian materi, kegiatan pembelajaran yang kurang menarik bagi siswa akan menumbuhkan rasa jenuh dan antipasti siswa dalam pelajaran tertentu, yaitu Bahasa Jawa.Adanya diskriminasi terhadap mata pelajaran tertentu hendaknya dihilangkan secara pelan-pelan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rambu-rambu yang ada.Sambil bermain, siswa diajak belajar bersama dengan mengetrapkan model pembelajaran Snowball Throwing dalam proses pembelajaran.Dengan model pembelajaran ini secara tidak langsung siswa diajak memahami materi yang ada secara bersama-sama, menumbuhkan rasa empati siswa, kerja sama,juga meningkatnya hasil belajar siswa.
Daftar Pustaka
Dr.Wina Sanjaya, M.Pd (2008), Perencanaan dan Pembelajaran Desain Sistem.Jakarta:Kencana Prenada Medika Group
Depdiknas (2005).Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas.Jakarta.Badan Standar Nasional
IGAK Wardhani, dkk.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta, Universitas Terbuka 2007
Karti Soeharto, dkk(2003).Teknologi Pembelajaran.Surabaya:Surabaya Intelektual Club
M.Toha Anggoro, dkk.Metode Penelitian.Jakarta, Universitas Terbuka (2007)
Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 Tentang SNP Pasal 1
Sagala Syaiful, (2005).Konsep dan Makna Pembelajaran.IKAPI Bandung:Alfabeta
Suryati, Isnawati, Wahyu Sukartiningsih, Bambang Yulianto.Model-Model Pembelajaran Inovatif.Surabaya, Universitas Negeri Surabaya
Undang-Undang Sisdiknas Pasal 1 butir 20 UU Nomor 20 Tahun 2003
Udin.S.Winataputra, dkk.Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta, Universitas Terbuka (2007)

                               
               


               

Selasa, 16 November 2010

PTK MAT


PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA
KELAS IV SD MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
A.PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
            Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di Sekolah Dasar.Mata pelajaran ini merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak disukai siswa karena tingkat kesulitannya cukup tinggi bagi siswa, lebih-lebih untuk siswa yang kurang mampu berpikir nalar dan kritis.Sebagian siswa lebih cenderung mudah menghafalkan daripada harus memecahkan suatu persoalan melalui soal-soal yang dihadapinya.Di samping tingkat kesulitannya, metode pengajarannyapun sangat besar sekali pengaruhnya bagi siswa.Penanaman konsep yang kurang tepat menjadi hambatan pelengkap menurunnya prestasi belajar siswa.
            Khusus di kelas VI, kesulitan dalam bermatematika menjadi puncak kesulitan siswa.Hal ini disebabkan ketidaktuntasan siswa di kelas-kelas sebelumnya.Ketidaktuntasan siswa di kelas sebelumnya menjadi hambatan yang mendasar dalam siswa menerima materi pelajaran di kelas berikutnya.Materi tertentu mungkin mudah diserap oleh siswa, namun harus disajikan dalam bentuk praktis dan berupa angka-angka yang praktis pula.Apabila materi sudah dalam bentuk soal cerita, di mana memerlukan pemahaman berbahasa dari siswa itu sendiri, maka hasilnyapun tidak maksimal.
            Data yang diperoleh dari hasil prestasi belajar siswa kelas VI saat menyelesaikan soal-soal cerita terkait dengan materi perbandingan, hasil yang dicapai hanya 63% siswa yang memenuhi ketuntasan pada materi ini.Sedangkan sisanya yakni 47% masih mengalami kesulitan karena memang dasar-dasar materi belum dipahami betul oleh siswa.Siswa yang merasa kurang bisa mengerjakan, justru tidak mau mengerjakan ulang.Hal ini disebabkan karena motivasi belajar siswapun juga kurang.Bahkan ada beberapa siswa yang sudah apatis tidak mau mengerjakan kembali dan melihat kembali tingkat kesulitan dan tingkat ketidakpahamannya.

            Upaya untuk memperbaiki prestasi belajar siswa sudah banyak dilakukan.Pendekatan personal, tambahan pelajaran, konfirmasi kepada orang tua.Namun, tampaknya cara-cara tersebut masih belum jitu, masih belum menukik pada kebutuhan siswa, masih belum menjadi senjata ampuh untuk memperbaiki prestasi belajar siswa.Semakin diberi tambahan materi siswa semakin sulit menerima.Hal ini dikarenakan siswa sudah merasa tidak bisa dalam pelajaran Matematika.
            Banyak faktor yang menjadi penyebab menurunnya nilai Matematika siswa antara lain:motivasi belajar siswa yang kurang, ketidaktuntasan di kelas sebelumnya, kurangnya peran aktif orang tua, rasa kurang percaya diri siswa (rasa takut salah dan takut bertanya saat mengalami kesulitan), pengajaran yang masih konvensional, model dan metode pembelajaran yang kurang tepat, guru kurang mendampingi siswa yang kurang.
            Faktor-faktor di atas merupakan beberapa faktor penyebab menurunnya prestasi belajar siswa di SD Santo Carolus, khususnya pada mata pelajaran Matematika di kelas VI.Maka melihat kondisi tersebut di atas, diperlukan pemecahan masalah guna meningkatkan kualitas pembelajaran, mengubah cara-cara mengajar yang masih konvensional, mencari terobosan-terobosan baru guna mengupayakan peningkatan kualitas pembelajaran.Hal ini dikarenakan meningkatnya kualitas pembelajaran diharapkan meningkat pula prestasi belajar siswa.Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah menurunnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika di kelas VI, peneliti mengangkat judul penelitian yaitu”Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas VI SD Melalui Penerapan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions ( STAD )”.
2.Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang diangkat dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.Bagaimana meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika di kelas VI SD Santo Carolus Surabaya?
b.Bagaimana pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions ( STAD ) dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika di kelas VI SD Santo Carolus Surabaya?
3.Tujuan Penelitian
Memperhatikan rumusan masalah di atas, maka tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini secara khusus adalah:
a.Untuk mengetahui peningkatan belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika di kelas VI A SD Santo Carolus Surabaya.
b.Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions ( STAD ) dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika di kelas VI A SD Santo Carolus Surabaya.
4.Manfaat Penelitian
            Adapun manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi guru, siswa, peneliti, ataupun bagi sekolah.
1.Bagi Guru
            Guru dapat memahami penerapan pelaksanaan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions ( STAD ) pada pembelajaran Matematika secara tepat guna, sehingga guru mempunyai alternative lain dalam menyampaikan materi kepada siswa.Sebagai wacana bagi guru dan dapat mengaplikasikan terhadap mata pelajaran lain yang sesuai.Memperbaiki pembelajaran yang dikelola.Guru dapat berkembang secara professional.Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan.
2.Bagi Siswa
            Melalui penelitian ini diharapkan siswa mampu meningkatkan prestasi belajarnya, lebih termotivasi dalam belajar, serta mampu mengubah sikap dan perilaku siswa dalam pembelajaran.Dengan demikian siswa mampu ikut berperan aktif dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, aktif, berani, bertanggungjawab, serta mampu berpikir kritis.
3.Bagi Peneliti
            Tercapai tidaknya hasil penelitian ini digunakan sebagai wacana, masukan bagi peneliti untuk lebih mengetahui permasalahan-permasalahan yang muncul/ yang ada dalam proses pembelajaran.Mengetahui kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions ( STAD ) serta memperbaikinya pada kesempatan lain.
4.Bagi Sekolah
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan pihak sekolah sebagai bahan referensi sekolah, sebagai masukan, sumbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah, serta dapat memperbaiki cara belajar siswa.
B.Kajian Pustaka dan Rencana Tindakan
1.Kajian Pustaka
A.Pengertian Pembelajaran
            Istilah pembelajaran merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan kegiatan guru dan siswa.Istilah pembelajaran mengacu pada sebgala kegiatan yang berpengaruh terhadap proses belajar siswa.
            Pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berusaha mengubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.(KBBI, 1996 : 14)
            Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari istilah kata”Instruction”.Menurut Gagne, Briggs, dan Wager (1992), pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.Instructions is set of events that learners in such a way that learning is facilitated.(Gagne, Briggs, and Wager, 1992 : 3).Sedangkan belajar menurut Gagne (1985 : 2) adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
            Rumusan dalam Pasal 1 butir 20 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni”Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar.Dalam konsep tersebut terkandung 5 konsep yakni interaksi peserta didik, pendidik, sumber belajar, dan lingkungan belajar.Peserta didik menurut Pasal 1 butir 4 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah anggota masyarakat yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
            Sesuai dengan pernyataan tersebut, Soetomo (1993:68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula.Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertumbuh, berkembang daya piker, sikap, dan lain-lain.(Soetomo, 1993:120)
            Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti minat, bakat, dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada di luar diri siswa seperti lingkungan, sarana, dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
            Sedangkan menurut Sagala (2005 :61) pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.
            Dalam arti luas proses pembelajaran merupakan jantungnya pendidikan untuk mengembangkan kemampuan, membangun watak, dan peradapan bangsa yang bermatabat dalam rangka pencerdasan kehidupan bangsa.Sedangkan pembelajaran itu sendiri adalah proses yang sengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
B.Masalah Peningkatan Prestasi Belajar Siswa
            Kompetensi adalah kualifikasi pengetahuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan (PP No.19 Tahun 2005 tentang SNP Pasal 1).Kompetensi merupakan segala sesuatu yang akan dimiliki oleh siswa dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam proses pembelajaran.Pembelajaran yang bermakna akan membantu siswa dalam mengembangkan dan menemukan kompetensi yang dimiliki.Oleh karena itu, kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu dirancang sedemikian rupa sehingga sungguh-sungguh membantu siswa dalam menemukan kompetensinya.
            Prestasi merupakan sesuatu yang telah dicapai dari hasil pekerjaannya, hasil yang telah diperoleh dengan jalan keuletan.Prestasi belajar terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar.Prestasi adalah sesuatu yang dicapai siswa dalam belajar.Hasil belajar dilakukan dengan mengadakan penilaian dan pengukuran yang dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan.Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2001 : 895) prestasi belajar merupakan penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan guru.
            Motivasi belajar adalah keinginan atau kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu sebaik-baiknya sehingga dapat mengerti apa yang dipelajarinya.Apabila motivasi belajar siswa rendah maka sebagai dampaknya hasil belajarpun akan rendah.Sebaliknya apabila motivasi belajar siswa tinggi sebagai dampaknya adalah hasil belajarpun akan meningkat.
            Masalah merupakan suatu pertanyaan yang harus dijawab atau pertanyaan yang harus direspon.Suatu pertanyaan akan menjadi suatu masalah jika pertanyaan tersebut menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh prosedur yang rutin.Di era global dan era perdagangan bebas, kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, dan rasional sangatlah dibutuhkan.Oleh karena itu, di samping diberi masalah-masalah yang menantang di kelas, seorang guru bisa saja memulai proses pembelajaran dengan mengajukan masalah yang cukup menantang kepada para siswanya.

C.Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions ( STAD )
            Model Pembelajaran STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya di Universitas John Hopkins.Metode ini dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif.Model ini digunakan untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis.Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok.Tiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik maupun kemampuannya.Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik, kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui Tanya jawab atau diskusi antar sesame anggota kelompok.Secara individual atau kelompok, tiap minggu atau dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang maraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.
            Langkah-langkah dalam Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions ( STAD ) adalah sebagai berikut:
1.Membentuk kelompok yang anggotanya = 5 orang secara heterogen
2.Guru menyajikan pelajaran
3.Guru member tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lain sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4.Guru member kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa.Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5.Memberi evaluasi
6.Kesimpulan
D.Upaya Meningkatkan Minat Belajar dan Motivasi Siswa
            Upaya meningkatkan minat belajar pada siswa bukannya hal yang mudah.Dalam hal ini guru benar-benar dituntut mampu mendesain pembelajaran sedemikian rupa sehingga proses belajar singguh-sungguh mengena pada sasaran yang diminati siswa.Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat menumbuhkan minat siswa antara lain:memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran, mengajak siswa untuk ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran, sedikit demi sedikit mengurangi pembelajaran dengan metode ceramah karena metode ini gurulah yang lebih mendominasi pembelajaran, sebaliknya siswa hanya duduk termangu.
            Mengingat pentingnya minat siswa dalam belajar, ovide decroly (dalam Usman 2001 : 27) mendasarkan sistem pendidikan pada pusat minat terhadap pengaruh iklim mempertahankan diri terhadap bermacam-macam bahaya dan musuh, bekerja sama , dan olah raga.
            Menurut Abraham H.Maslow, kebutuhan-kebutuhan seseorang dapat digolongkan menurut jenjang hirarkhi, yaitu kebutuhan yang lebih tinggi menuntut untuk dipenuhi apabila sekiranya kebutuhan yang lebih rendah tingkatnya telah dipenuhi tuntutannya.Maslow menggambarkan jenjang kebutuhan dalam bentuk piramida.
            Oleh karena itu, tugas guru dalam menumbuhkan motivasi siswa tidaklah mudah.Tugas guru adalah membangkitkan motivasi belajar siswa supaya siswa mampu berproses bersama dalam kegiatan pembelajaran bersama-sama guru.Motivasi dapat timbul dari luar dan dari dalam siswa.
2.Rencana Tindakan
            Rencana tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi pembelajaran Matematika supaya dapat menaris siswa, siswa dapat lebih termotivasi, menumbuhkan rasa percaya diri, dan menciptakan pembelajaran yang bermutu adalah dengan mengetrapkan pembelajaran dengan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) supaya siswa lebih termotivasi dalam belajar, mampu memahami materi belajar dengan baik, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, serta dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
            Pelaksanaan rencana tindakan ini tidak hanya satu kali tatap muka saja melainkan dilaksanakan lebih dari satu kali tatap muka.Pada penelitian ini peneliti menggunakan 2 siklus.Diharapkan pada siklus yang kedua sudah tampak perubahan pengetahuan siswa, perilaku siswa, juga menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar.
C.Metode Penelitian
            Penelitian yang dilakukan ini menggunakan pendekatan deskriptif sedangkan jenis penelitian termasuk Penelitian Tindakan Kelas.Kelas yang diteliti adalah kelas VI A dari tiga kelas paralel yang ada.Pelaksanaan penelitian terdiri dari dua siklus.Masing-masing siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai, seperti yang sudah dituangkan dalam faktor-faktor yang ada.Untuk lebih dapat mengetahui permasalah-permasalahan pembelajaran Matematika yang berhubungan dengan perbandingan di kelas VI A dilakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran di kelas sebelumnya.Mula-mula dilakukan diskusi antara guru sebagai peneliti dan guru lain sebagai pengamat.Di sini peneliti juga berkolaborasi dengan beberapa guru sebagai teman sejawat.Melalui kegiatan kolaborasi tersebut akan dapat ditemukan bersama-sama antara guru dan pengamat untuk menetapkan tindakan tepat dalam rrangka meningkatkan keefektifan pembelajaran Matematika guna meningkatkan prestasi belajar siswa.
1.Lokasi Penelitian
            Lokasi penelitian adalah tempat yang digunakan untuk melakukan penelitian guna memperoleh data yang diharapkan.Penelitian dilaksanakan di kelas VI A SD Santo Carolus Surabaya Tahun pelajaran 2010-2011 semester II.Model pembelajaran yang digunakan adalah Student Teams Achievement Divisiona (STAD).


2.Waktu Penelitian
            Waktu penelitian dilaksanakan pada semester II (genap) Tahun pelajaran 2010-2011.Munculnya penelitian ini dikarenakan kurangnya hasil ulangan harian siswa dengan materi perbandingan.Penelitian diawali pada tanggal 8 Januari 2011 dan direncanakan selesai pada akgir bulan April minggu pertama tahun 2011.
3.Subjek Penelitian
            Subjek penelitian adalah siswa kelas VI A Tahun pelajaran 2010-2011 pada mata pelajaran Matematika dengan pokok materi Perbandingan dan Skala.
4.Desain Penelitian
            Desain penelitian adalah berupa Penelitian Tindakan Kelas dengan alur kegiatan sebagai berikut:
Refleksi awal   ---à Perencanaan Tindakan I    -àPelaksanaan Tindakan I ...-à Observasi, Refleksi, dan Evaluasi I .... -àPerencanaan Tindakan II ....--àPelaksanaan Tindakan II ....-à Observasi, Refleksi, dan Evaluasi II
Berdasarkan desain di atas, tahapan penelitian diuraikan sebagai berikut:
a.Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan meliputi:
1.Peneliti dan pengamat menetapkan alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika
2.Peneliti bersama-sama pengamat lain berkolaborasi membuat perencanaan pengajaran yang mampu mengembangkan ketrampilan intelektual siswa.
3.Mendiskusikan tentang pembelajaran Matematika yang mampu mengubah perilaku siswa dan sikap siswa
4.Mengiventarisasi media pembelajaran yang akan digunakan
5.Membuat lembar instrumen observasi
6.Merumuskan instrumen alat evaluasi
b.Tahap Pelaksanaan
            Tahap pelaksanaan kegiatannya adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana mestinya, sebagaimana yang sudak direncanakan.
c.Tahap Observasi
            Observasi bertujuan untuk mengumpulkan data valid dan seliabel yang diperlukan untuk menjawab masalah yang ada yaitu kurangnya nilai Matematika.Prosedur atau langkah-langkah observasi terdiri dari 3 tahap yaitu : pertemuan pendahuluan, observasi, dan diskusi balikan.
Pertemuan Pendahuluan
            Pertemuan pendahuluan disebut juga dengan perencanaan dilakukan sebelum observasi berlangsung.Tujuannya adalah menyepakati berbagai hal yang berkaitan dengan pelajaran yang akan diamati dan diobservasi.
Prlaksanaan Observasi
            Observasi dilakukan terhadap proses dan hasil tindakan perbaikan, yang tentu saja terfokus pada perilaku mengajar guru, perilaku belajar siswa, dan interaksi antara guru dan siswa.Pengamat merekam dan menginterprestasikan data sesuai dengan kesepakatan dan berusaha menciptakan suasana yang mendukung berlangsungnya proses perbaikan.
Diskusi Balikan
            Sesuai dengan prinsip pemberian balikan, pertemuan balikan dilakukan segera setelah tindakan perbaikan yang diamati berakhir.

d.Tahap Refleksi
            Refleksi dilakukan melalui analisis dan sintesis, serta induksi, dan deduksi.Analisis dilakukan merenungkan kembali secara intensif kejadian-kejadian atau peristiwa yang menyebabkan munculnya sesuatu yang diharapkan ataupun tidak diharapkan.Berdasarkan hasil observasi tersebut guru dapat merefleksikan diri tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukan.Dengan demikian, guru dapat mengetahui efektifitas pembelajaran yang akan dilakukan.Berdasarkan hasil refleksi dapat diketahui kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga dapat digunakan untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya.
e.Teknik Analisis Data
            Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif.Peneliti akan mendiskripsikan secara detail hasil observasi terhadap tindakan yang dilaksanakan, selanjutnya dihitung rerata, dikonfirmasikan ke tabel penentuan patokan dengan penghitungan prosentase.
            Teknik analisis data adalah upaya untuk mengelola data yang telah diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi sehingga peneliti dapat mengetahui hasilnya.Proses analisis data dimulai dengan cara mengumpulkan data yang ada di lapangan kemudian diklasifikasikan dan diinterprestasikan.Data-data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif, direduksi, diklarifikasikan, dan dideskripsikan ke dalam bahasa verbal untuk penarikan kesimpulan.
            Setelah data-data terkumpul, peneliti mengadakan proses reduksi dengan jalan membuat abstraksi, yaitu dengan membuat rangkuman inti, yang kemudian dipisah-pisahkan dan dikelompokkan sesuai dengan permasalahannya untuk kemudian didiskripsikan dan disajikan dalam bentuk informasi.



D.Jadwal Kegiatan
No.
Kegiatan
Waktu
1.
Perencanaan
Januari 2011 Minggu ke 2
2.
Persiapan
Januari 2011 Minggu ke 3
3.
Pelaksanaan Tindakan I
Pebruari 2011 Minggu 2
4.
Pelaksanaan Tindakan II
Pebruari 2011 Minggu 4
5.
Pengolahan Data
Maret 2011 Minggu 2
6.
Penyusunan Laporan
Maret Minggu 3 – April


Minggu ke 2

            Sesuai dengan rencana yang tertuang pada kolom di atas, penelitian ini akan dilaksanakan melalui beberapa tahap.
E.Biaya Penelitian
            Kegiatan penelitian yang dilakukan tidak memerlukan dana atau biaya operasional dari tahap perencanaaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian laporan penelitian.Hal ini karena fasilitas sekolah yang dapat menunjang kegiatan penelitian ini.
F.Personalia Penelitian
            Penelitian Tindakan Kelas ini melibatkan penulis sebagai ketua peneliti, dibantu beberapa guru Matematika kelas V dan kelas VI.
G.Daftar Pustaka
Dr.Wina Sanjaya, M.Pd (2008) Perencanaan dan Pembelajaran Desain Sistem.Jakarta:Kencana Prenada Medika group
Depdiknas (2005)Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas.Jakarta.Badan Standar Nasional Pendidikan

IGAK Wardhani, dkk.Penelitian dan Tindakan Kelas.Jakarta, Universitas Terbuka 2007
Karti Soeharto, dkk (2003).Teknologi Pembelajaran.Surabaya:Surabaya Intellectual Club.
M.Toha Anggoro, dkk.Metode Penelitian.Jakarta, Universitas Terbuka (2007)
Prof.Dr.H.E.Mulyasa, M.Pd.Praktik Penelitian Tindakan Kelas.Bandung, PT Remaja Rosdakarya
Peraturan Pemerintah No.19 Tahun Tentang SNP Pasal 1
Sagala Syaiful, (2005).Konsep dan Makna Pembelajaran.IKAPI Bandung:Alfabeta
Suryati, Isnawati, Wahyu Sukartiningsih, Bambang Yulianto.Model-model Pembelajaran Inovatif.Surabaya.Universitas Negeri Surabaya
Udin.S.Winataputra, dkk.Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Universitas Terbuka (2007)
Undang-Undang Sisdiknas Pasal i butir 20 UU Nomor 20 Tahun 2003
Kunandar, S.Pd., M.Si.Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru.Jakarta:Rajawali Pers, 2009
H.Lampiran-lampiran
1.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
2.Soal-soal Pre tes, Pos tes, beserta kunci jawaban
3.Lembar Observasi
4.Lembar Kerja Siswa
5.Lembar Penilaian